![]() |
||||
| Inggris | Indonesia | Korea      | ||||
|
|
Info Umum | Industri | Perdagangan | Peluang Pasar | |||
| กก |
Ekonomi dan Perdagangan Di bidang Ekonomi, hubungan kerjasama antara kedua negara terlihat dalam posisi yang saling membutuhkan dan saling melengkapi dalam berbagai sektor. Di satu pihak, Indonesia memerlukan modal/investasi, teknologi dan produk-produk teknologi, sedangkan di pihak lain, Korsel memerlukan sumber alam/mineral, tenaga kerja dan pasar Indonesia yang besar.. Berdasarkan data Korea Exim Bank hingga September 2010, investasi Korsel di Indonesia sampai kuartal ketiga tercatat jumlah persetujuan investasi sebanyak 263 proyek dengan nilai US$ 1.590,5 juta. Dibandingkan tahun 2009, persetujuan investasi Korsel di Indonesia Januari-September tahun 2010 mengalami meningkat yang cukup substansial dari sebelumnya senilai US$ 1.073,1 juta tahun 2009 sebagai tanda pemulihan dari krisis keuangan global. Sektor investasi terbesar Korsel di Indonesia untuk tahun 2010 adalah sektor manufakturing dengan nilai investasi US$ 763,5 juta dalam 113 proyek dikuti sektor pertambangan senilai US$ 698,1 juta dalam 25 proyek dan sektor pertanian,kehutanan dan perikanan senilai US$ 33,5 juta dalam 12 proyek. Adapun berdasarkan realisasi investasi, nilai investasi Korsel di Indonesia untuk jangka waktu yang sama adalah US$ 730,8 juta. Secara kumulatif, total investasi Korsel di Indonesia sejak tahun 1968 bernilai USD 8,3 milyar dalam 3.543 proyek investasi. Dengan demikian, secara kumulatif nilai investasi Korsel di Indonesia berada pada peringkat ke-6 terbesar investor asing di Indonesia. Dalam konteks kerjasama G to G, permasalahan investasi dibahas dalam working group on Trade and Investment (WG-TI) JTF-EC. Pada Pertemuan WG-TI JTF EC ke-2 di Seoul, tanggal 25 Maret 2010, pihak Korsel mengajukan topik bahasan mengenai berbagai permasalahan yang dihadapi pebisnis Korsel yang melakukan investasi di Indonesia, termasuk permintaan Korsel untuk melakukan amandemen daftar negatif investasi, pemberian insentif dan fasilitas bagi perusahaan Korsel dan implementasi UU Pertambangan yang baru. Sementara itu, pihak Indonesia meminta agar Pemerintah Korsel mendorong perusahaan-perusahaan Korsel untuk melakukan investasi pada sektor industri padat karya dan memindahkan pusat produksinya ke Indonesia. Umumnya investasi Korsel di Indonesia merupakan usaha kecil dan menengah (UKM) yang bergerak di bidang manufaktur meliputi industri makanan, industri tekstil dan garmen, industri kertas dan percetakan, industri kimia dan farmasi, industri karet dan plastik, industri mineral dan non-logam, industri logam, mesin dan elektronik, industri kendaraan bermotor dan alat transportasi lainnya. Sektor-sektor ini merupakan sektor yang banyak menyerap tenaga kerja. Dalam beberapa tahun terakhir ini fokus investasi Korsel mulai bergeser ke sektor primer yang terdiri dari tanaman pangan dan perkebunan, peternakan, kehutanan, perikanan, pertambangan dan energi. Potensi investasi Korsel cukup besar mengingat kejenuhan dan persaingan usaha di dalam negeri, mahalnya upah tenaga kerja dan tuntutan buruh yang semakin besar serta bergesernya industri ke knowledge-based, sehingga mendorong pengusaha-pengusaha Korsel untuk mengalihkan usahanya ke luar negeri. Di samping itu, investasi Korsel yang terkait dengan penanganan suplai bahan baku dan komoditi yang notabene tidak dimiliki Korsel juga meningkat sejalan dengan peningkatan kebutuhan industri domestik Korsel. Indonesia dalam hal ini masih merupakan negara tujuan investasi Korsel yang menarik terkait dalam potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang dimiliki Indonesia. Secara kumulatif, Indonesia merupakan negara tujuan investasi Korsel terbesar keenam setelah China, AS, Hong Kong Vietnam dan UK. Pada tahun 2010, tercatat perkembangan yang menggembirakan terkait dengan investasi Korsel di Indonesia. Perusahaan-perusahaan besar Korsel kembali masuk ke Indonesia untuk melakukan investasi pada sektor manufaktur dan pasar retail. Pada tahun 2010, POSCO, Hankook Tire dan Lotte Group adalah beberapa perusahaan Korsel yang tercatat melakukan investasi di Indonesia. POSCO berencana untuk melakukan investasi pembangunan pabrik baja senilai US$ 6 milyar di Cilegon, Banten; Hankook Tire berencana untuk melakukan investasi pada pembangunan pabrik Ban senilai US$ 353 juta di Bekasi, Jawa Barat dan Lotte Group telah berinvestasi pada pasar retail Indonesia dengan mengakuisisi PT. Makro Indonesia. Sampai dengan 4 tahun ke depan, Lotte Group berencana untuk melakukan investasi di Indonesia senilai US$ 870 juta. Terkait dengan investasi POSCO, nilai investasi perusahaan tersebut di Indonesia sangat besar dan patut dicatat sebagai prestasi tersendiri. Beberapa kejadian penting yang mengiringi realisasi investasi POSCO tersebut adalah sebagai berikut: Pada tanggal 2 Desember 2009, PT. Krakatau Steel dan POSCO menandatangani Memorandum of Agreement pendirian Joint Venture Company. Setelah beberapa kali mengalami penundaan, pada tanggal 4 Agustus 2010, PT. Krakatau Steel dan POSCO telah menandatangani joint venture agreement pendirian integrated steel mill di Cilegon, Banten dengan nilai investasi sebesar US$ 6 miliar. Groundbreaking pembangunan integrated steel mill telah dilakukan pada tanggal 28 Oktober 2010 di Cilegon, Jawa Barat. Joint venture company (JVC) tersebut akan dibangun dalam 2 tahap, dimana pada setiap tahap, kapasitas produksi JVC adalah 3 juta ton baja/tahun sehingga total kapasitas JVC setelah beroperasi penuh adalah 6 juta ton baja/tahun. Pembangunan fasilitas produksi JVC fase pertama direncanakan dimulai pada bulan Oktober 2010 dan selesai pada akhir tahun 2013. Pada periode bulan Januari-Nopember 2010, total perdagangan Korsel dengan Indonesia tercatat senilai US$ 20,68 milyar meningkat sangat signifikan sebesar 52.13 persen dibandingkan dengan total perdagangan periode yang sama tahun 2009 dengan nilai US$ 13,59 milyar. Realisasi total perdagangan tersebut terdiri dari perdagangan ekspor senilai US$ 7,99 milyar dan impor sebesar US$ 12,70 milyar. Apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2009 masing-masing mengalami kenaikan untuk ekspor sebesar 47.96 persen dan untuk impor naik sangat drastis sebesar 54.88 persen. Realisasi total perdagangan ini lebih tinggi sebesar 11.09 persen dibandingkan periode bulan Januari-Oktober 2010 dengan nilai tercatat sebesar US$ 18,62 milyar terdiri dari nilai ekspor sebesar US$ 2,55 milyar dan impor mencapai nilai sebesar US$ 11,49 milyar. Sementara itu, pangsa pasar untuk total perdagangan Korsel dengan Indonesia untuk migas dan non-migas pada bulan Januari-Nopember 2010 didominasi oleh produk migas sebesar 52.97 persen dibandingkan dengan non-migas sebesar 47.03 persen. Ekspor Korsel ke Indonesia pada periode bulan Januari-Nopember 2010 terdiri dari ekspor migas sebesar US$ 2,85 milyar dan non-migas senilai US$ 5,14 milyar atau dibandingkan pada periode yang sama, tahun sebelumnya untuk migas tumbuh pesat sebesar 102,80 persen dan 28.66 persen bagi ekspor non migas, dengan perolehan nilai ekspor migas pada periode Januari-Nopember 2009 sebesar US$ 1,40 milyar dan non-migas sebesar US$ 3,99 milyar. Sedangkan impor Korsel dari Indonesia pada periode bulan Januari-Nopember 2010 terdiri dari migas mencapai US$ 8,11 milyar dan non-migas 4,59 milyar atau masing-masing mengalami kenaikan sebesar 70.52 persen dan 33.28 persen dibandingkan pada periode yang sama bulan Januari-Nopember tahun sebelumnya dengan nilai untuk migas sebesar US$ 4,75 milyar dan non-migas sebesar US$ 3,44 milyar. Pada periode bulan Januari-Nopember 2010, Indonesia merupakan negara tujuan ekspor Korea ke-11 sama dengan posisi pada periode Januari-Oktober 2010 dan apabila dibandingkan pada periode Januari-Desember 2009, Indonesia menduduki peringkat ke-12 sebagai negara tujuan ekspor utama Korsel. Apabila realisasi impor Korsel dari Indonesia pada periode bulan Januari-Nopember 2010 dibandingkan pada bulan Januari-Oktober 2010 tetap berada di peringkat ke-7 sebagai negara pemasok utama Korsel dengan pangsa pasar sebesar 1.89 persen dibandingkan pada periode Januari-Nopember 2009. Sementara apabila dibandingkan dengan realisasi total impor Korsel dari Indonesia pada periode Januari-Desember 2009 menempati urutan ke-9 sebagai negara pemasok utama Korsel dengan pangsa pasar sebesar 2.87 persen. Pada periode Januari-Nopember 2010 realisasi impor bulanan Korsel dari Indonesia tercatat nilai perolehan tertinggi terjadi pada bulan April 2010 dengan nilai mencapai US$ 1,36 milyar terdiri dari migas sebesar US$ 860,32 juta dan non-migas sebesar US$ 496,48 juta. Pertumbuhan impor Korea dari Indonesia dalam periode Januari-Oktober 2010 tumbuh berfluktuatif dengan trend sebesar -0.16 persen setiap bulannya dengan rata-rata naik sebesar US$ 1,15 milyar setiap bulannya. Posisi neraca perdagangan Korsel terhadap Indonesia pada periode bulan Januari-Nopember 2010 adalah defisit sebesar US$ 4,71 milyar, atau meningkat sangat signifikan sebesar 68.21 persen dibandingkan periode bulan Januari-Nopember tahun 2009 dengan defisit sebesar US$ 2,80 milyar. Surplus neraca perdagangan Indonesia terhadap Korsel tersebut diperoleh oleh penerimaan dari sektor migas dengan nilai US$ 5,26 milyar. Sedangkan penerimaan neraca perdagangan dari sektor non-migas adalah defisit dengan nilai sebesar US$ 546,70 juta atau mengalami penurunan sebesar 0.34 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Surplus neraca perdagangan bulanan Indonesia terhadap Korsel pada periode Januari-Nopember 2010 tumbuh rata-rata sebesar US$ 1,15 milyar setiap bulannya. Dengan adanya perjanjian ASEAN-ROK FTA (goods) yang mulai berlaku sejak 2007 menambah keunggulan daya saing Indonesia karena beberapa komoditi memiliki tariff bea masuk sebesar 0 % (coffee instant, handicraft, natural rubber, footwear dan textle), sehingga lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara lainnya yang belum memiliki perjanjian FTA dengan ROK.
|
กก | ||
|
Hak Cipta : |
||||