|
¡¡ |
Kegiatan KBRI

Indonesia
Community Gathering
di Nami Island
Pada 2 November
2008, KBRI Seoul menyelenggarakan
Indonesia Community Gathering
di Nami Island, dengan jumlah masyarakat Indonesia yang hadir mencapai
300 orang yang terdiri dari perwakilan tenaga kerja, pelajar, masyarakat
mixed married dan
keluarga besar KBRI. Acara ini telah berhasil diselenggarakan dengan
acara utama mendengarkan sambutan pembinaan dari KUAI RI Seoul dan
ceramah keagamaan dari Kang Ibing,
entertainer ternama
Indonesia yang sekarang lebih aktif berprofesi sebagai mubaligh.
Dalam kata
sambutannya, KUAI RI Seoul Foster Gultom menyampaikan agar seluruh
masyarakat Indonesia di Korea, khususnya kaum pekerja, dapat terus
menjaga tali silaturahmi, yang diharapkan dapat mengurangi terjadinya
hal-hal yang tidak menyenangkan selama bertempat tinggal/bekerja di
Korea. Disampaikan juga bahwa acara
Indonesia Community Gathering 2008
ini diselenggarakan sebagai apresiasi pemerintah c.q. KBRI Seoul kepada
masyarakat, khususnya para pekerja, yang telah membantu mengirimkan
devisa kepada pemerintah. Disampaikan agar seluruh masyarakat dapat
menjaga citra baik Indonesia di Korea.
Pengelola Nami
Island yang disebut Presiden
Naminara Republic juga berkesempatan menyampaikan kata
sambutan bahwa pihaknya akan memfasilitasi dengan gratis segala acara
dari Masyarakat Indonesia yang diselenggarakan di Nami Island di masa
yang akan datang, bahkan menawarkan pekerjaan bagi WNI yang berminat
bekerja di Nami Island sebagai perawat kebun/gardener
dan juru masak di restoran. Sambutan Presiden
Naminara Republic
mendapat tepuk tangan meriah dari peserta karena satu dua patah kata
menggunakan bahasa Indonesia.
Ceramah Kang Ibing
dilakukan dengan pola ceramah dan nada. Disela-sela ceramah bertemakan
silaturahmi, grup kecapi bermain mengiringi penyanyi bernyanyi lagu-lagu
religi. Kang Ibing memberikan tuntunan dalam berkehidupan dan mencari
penghidupan di Korea, yaitu agar adat/budaya/ agama yang telah menjadi
pegangan hidup di tanah air tidak larut dengan kehidupan yang tidak
sesuai. Berbagai hal telah disampaikan berkaitan dengan bagaimana
menghindari minuman alkohol, tinggal bersama antara laki-laki dan
perempuan tanpa menikah, makanan halal dan haram. Ceramah Kang Ibing
ditutup dengan tanya jawab yang disambut dengan antusias oleh seluruh
peserta gathering. (Sumber
: KBRI Seoul) |
|

Indonesian
Cinematography Night di Pusan, Korsel
Dalam rangka mempromosikan
film Indonesia di mancanegara, KBRI Seoul menyelenggarakan resepsi
Indonesian Cinematography Night
pada 6 Oktober 2008 bertempat di kota Pusan. Resepsi diselenggarakan bersamaan
dengan festival film internasional ke-13 Pusan tahun 2008 (PIFF
2008). Hadir pada resepsi wakil dari Depbudpar, kalangan
pengusaha film Indonesia dan para sineas terkemuka.
Resepsi yang
diselenggarakan KBRI cukup unik dan mengundang daya tarik tersendiri
bagi para peserta PIFF 2008, karena selain menampilkan
thriller film-film layar
lebar terbaru Indonesia, resepsi dihadiri sineas muda terkemuka dan
artis layar lebar Indonesia yang cukup dikenal di kalangan perfilman
Asia, seperti Nicholas Saputra dan Dian Sastro, sutradara ternama Nan T.
Achnas, Direktur Jifest,
Shanti, serta dimeriahkan oleh penampilan grup kesenian kota Pekanbaru,
Riau, yang khusus didatangkan KBRI untuk memeriahkan acara ini.
KUAI KBRI Seoul
Foster Gultom, dalam sambutannya menyampaikan rasa bangganya kepada
kalangan perfilman Indonesia yang telah menghasilkan film-film bermutu
yang layak diperhitungkan, khususnya di Asia. KUAI juga menyampaikan terima
kasih setinggi-tingginya kepada kalangan perfilman Asia dan Depbudpar
yang telah berjuang membawa film Indonesia ke mancanegara.
Pada kesempatan
yang sama, Dirjen Nilai Seni, Budaya, dan Film, Depbudpar, Tjetjep
Suparman, memberikan cindera mata kepada Direktur PIFF, saat menghadiri
undangan KBRI untuk mengenal lebih jauh seluk beluk perfilman
Indonesia. (Sumber: KBRI Seoul).
Keterangan foto
: Dirjen NSBF, Tjetjep Suparman, menyerahkan cindera mata kepada
Direktur PIFF. |

Siaran Langsung
Diplomasi Angklung Duta Belia di Seoul
Alunan
musik angklung dari dua puluh delapan pelajar terbaik Indonesia yang
termasuk dalam Duta Belia Indonesia 2008 telah disiarkan secara
live di Seoul oleh Radio
Arirang, stasiun
radio yang cukup ternama di Korea Selatan. Di pandu oleh salah satu DJ
terkenal Korea, Dorothy Nam, para Duta Belia Indonesia secara terampil
memainkan lagu tradisional Korea Arirang, I Have a Dream dan Can’t
Help Falling in Love. Penampilan tersebut merupakan bagian dari
“Diplomasi
Angklung?dari para Duta Belia selama kunjungan mereka di Korea Selatan.
Selain tampil di
radio, sebelumnya mereka juga secara mempesona memainkan beberapa buah
lagu yang mendapat tanggapan meriah dari para tamu undangan pada acara
resepsi dalam rangka HUT ke-41 ASEAN yang diselenggarakan oleh ASEAN
Committee in Seoul (ACS), tanggal 24 Agustus 2008. Dalam acara yang
diadakan di Wisma Duta KBRI Seoul tersebut, Duta Belia secara interaktif
juga turut melibatkan para hadirin untuk bermain angklung bersama.
Selama
kunjungannya ke Korea Selatan, para Duta Belia berkesempatan untuk
melakukan courtesy call
kepada Direktur Cultural
Cooperation Division di Kementerian Luar Negeri dan
Perdagangan, Direktur
International Cultural Cooperation Division Kementerian
Kebudayaan dan Pariwisata dan kepada Sekjen
National Council of Youth
Organizations in Korea (NCYOK). Dari kunjungan tersebut,
para Duta Belia belajar dan mendapatkan informasi mengenai situasi dunia
pendidikan dan kebudayaan di Korsel, organisasi kepemudaannya, maupun
mengenai cultural diplomacy yang saat ini sedang digalakkan oleh
Pemerintah Korsel.
Untuk mengenal
sejarah dan kebudayaan Korea secara langsung, Duta Belia mengunjungi
beberapa obyek wisata/sejarah seperti Istana Gyengbokgung dan
Cheongwadae (Blue House),
ke Dora Observation Post dan masuk ke dalam
3rd Infiltration tunnel
di wilayah Demilitarized Zone
(DMZ) di Imjin-gak dekat kota Pamunjeom yang dibuat oleh tentara Korea
Utara di tahun 70-an untuk melakukan invasi militer ke Korsel. (Sumber :
KBRI Seoul) |

Makanan dan Kesenian
Indonesia Semakin Diminati di Korsel
Tak kurang dari
900 tusuk sate, bakso, mi goreng dan berbagai penganan kecil lain yang
disiapkan DWP KBRI Seoul di booth
Indonesia pada acara Seoul
Friendship Fair-Hi Seoul Festival pada 10 Mei 2008 habis
diminati pengunjung. Setiap pertunjukan tarian Indonesia yang digelar
juga selalu dikerumuni pengunjung antusias. Pageralan tari yang paling
banyak mendapat sambutan meriah masyarakat Korsel adalah tarian Dolanan
Anak yang dibawakan oleh 6 pasang putra-putri staf KBRI Seoul yang masih
berusia di bawah 12 tahun, selain juga jenis-jenis tari yang lain antara
lain Tari Bali, Tari rantak, dan Tari Jaipong. Antusiasme masyarakat
Korsel ini membuktikan bahwa makanan dan kesenian Indonesia semakin
dikenal dan semakin diminati oleh masyarakat Korea Selatan.
Selain
Seoul Friendship Fair-Hi Seoul
Festival, pada Mei ini KBRI Seoul juga aktif mengisi
kegiatan berbagai festival budaya di Korsel, antara lain
International Night di Yongsan
International School of Seoul pada 2 Mei 2008, peringatan
Korean Children Day di Children
Center pada tanggal 4 Mei 2008 dan
Migrant Arirang Festival
yang diselenggarakan oleh Korean
Ministry of Labour dan perkumpulan pekerja migran di Korsel
pada 11 Mei 2008.
Dalam berbagai
festival tersebut, KBRI Seoul bekerja sama dengan Dharma Wanita
Persatuan (DWP) KBRI Seoul dan Persatuan Pelajar Indonesia di Korea (PERPIKA)
memperkenalkan berbagai makanan khas Indonesia menggelar pagelaran
tarian Indonesia dari Sabang sampai Merauke.
Musim semi di
Korea Selatan merupakan musim yang paling ditunggu-tunggu oleh
masyarakat karena pada musim tersebut cuaca mulai menjadi hangat dan
orang-orang suka melakukan kegiatan di luar rumah. Kesempatan ini tidak
disia-siakan oleh KBRI Seoul untuk melakukan kegiatan promosi citra
Indonesia di Korsel, terutama dalam rangka turut menyukseskan progam
Visit Indonesia Year 2008
dan menarik arus wisatawan asal Korsel untuk berkunjung ke
Indonesia.
Untuk mendorong
kegiatan promosi citra Indonesia tersebut, akhirnya KBRI Seoul bekerja
sama dengan DWP juga berhasil mendirikan sanggar kesenian Indonesia.
Sanggar tari yang beranggotaan para pelajar Indonesia, putra-putri staf
KBRI, dan masyarakat Indonesia lainnya di Korsel tersebut telah berjalan
secara rutin setiap hari Jumat untuk berlatih tari-tarian Indonesia.
Diharapkan agar kegiatan sanggar tari tersebut dapat terus berjalan
dengan lancar untuk masa-masa yang akan datang. (pw) (Sumber: KBRI
Seoul) |

Keindahan Alam
Indonesia Hingga Kebiasaan Jam Karet Menjadi Tema Lomba Pidato Bahasa
Indonesia di Seoul
Keindahan alam
Indonesia, antara lain alam pulau Komodo dan budaya Minangkabau, hingga
kebiasaan jam karet dan DVD Bajakan di Indonesia telah menjadi tema dan
presentasi menarik dalam mengadakan Lomba Pidato Bahasa Indonesia yang
diselenggarakan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Seoul pada 24 Mei
2008. Perlombaan diselenggarakan di Gedung Serbaguna Apartemen KBRI.
Lomba pidato ini diikuti oleh 31 peserta dari kalangan pelajar dan
mahasiswa Korsel. Para kontestan tampak sangat antusias mengikuti lomba
tersebut, bahkan mempersiapkan diri dengan mengenakan kebaya dan kemeja
batik.
Menurut Kuasa
Usaha A.I. (KUAI) KBRI Seoul, Foster Gultom, KBRI Seoul telah sukses
menyelenggarakan Lomba Pidato Bahasa Indonesia selama empat tahun
berturut-turut sejak 2005. Kegiatan tahunan tersebut bertujuan untuk
lebih memperkenalkan bahasa dan budaya Indonesia kepada masyarakat
Korea, selain untuk mempererat hubungan yang telah terjalin baik antara
Indonesia dan Korea. KUAI menambahkan bahwa tema
”Kebudayaan
Indonesia?sengaja dipilih untuk mendukung program ?EM>Visit Indonesia
Year 2008?yang diharapkan pada gilirannya dapat menarik lebih banyak
masyarakat Korsel untuk berkunjung ke Indonesia.
Dua kontestan
terbaik yakni Jeong Yu In, mahasiswa Hankuk University of Foreign
Studies dan Lee Ho Yun, mahasiwa Hoseo Technical College, terpilih
sebagai juara pertama dan mendapatkan hadiah paket wisata ke pulau Bali
selama 4 hari 3 malam, sedangkan juara kedua dan ketiga mendapatkan
hadiah uang tunai dengan jumlah yang tak kalah besarnya. (pw) (Sumber:
KBRI Seoul) |
|
Pertemuan
Para Dubes ASEAN dengan Presiden Terpilih Korea, Lee Myung-bak
Pada
tanggal 29 Januari 2008, Duta Besar RI Jakob Tobing, selaku Ketua ASEAN
Committee in Seoul (ACS), beserta tujuh Duta Besar negara anggota ASEAN
lainnya yaitu Dubes Brunei, Kamboja, Myanmar, Malaysia, Singapura,
Thailand dan Vietnam, melakukan courtesy call kepada Presiden
Terpilih Korea Selatan, Lee Myung-bak. Pertemuan berlangsung di kantor
Presiden Terpilih Lee Myung-bak di Seoul.
Selain
menyampaikan ucapan selamat kepada Presiden Terpilih Lee Myung-bak atas
kemenangannya dalam pemilu Korea yang berlangsung bulan Desember 2007
yang lalu serta pembicaraan mengenai hubungan ASEAN-Korea Selatan, Dubes
RI pada kesempatan tersebut juga. menyampaikan sebuah cindera mata
sebagai ungkapan penghargaan dan terima kasihnya sekali lagi kepada Lee
Myung-bak atas bantuan kemanusiaan yang telah diberikannya bagi para
korban bencana alam tsunami akhir tahun 2004 yang melanda Asia Tenggara,
khususnya di Indonesia, sewaktu beliau masih menjabat sebagai Walikota
Seoul.
Kepada
para Dubes ASEAN, Presiden Terpilih Lee Myung-bak antara lain
menyampaikan janjinya untuk lebih menaruh perhatian khusus kepada ASEAN
serta akan meningkatkan partisipasi Korea dalam kerangka bantuan
pembangunan internasional. |

Perayaan Natal bersama masyarakat
Indonesia di Korea Selatan
KBRI
Seoul menyelenggarakan acara perayaan natal di Korea Selatan dalam
bentuk ibadah oikumene dan perayaan natal bersama masyarakat Indonesia
di Korea Selatan pada tanggal 25 Desember 2007 bertempat di Wisma
Indonesia KBRI Seoul. Acara tersebut dihadiri oleh staf KBRI Seoul dan
keluarga, jemaat-jemaat dari gereja-gereja Indonesia di Korea Selatan,
dan perwakilan tokoh-tokoh masyarakat.
KBRI
Seoul juga mengundang kelompok paduan suara Nathania Ministry Choir dari
Indonesia untuk mengiringi lagu selama ibadah oikumene.
Tema natal yang diambil adalah "Hiduplah
dengan bijaksana, adil, dan beribadah", sesuai dengan tema natal
nasional di Indonesia.
Dalam kata sambutannya, Dubes RI Jakob
Tobing menyampaikan agar segenap masyarakat Indonesia tidak hanya dapat
menghayati tema natal tersebut dalam kehidupan sehari-hari, namun juga
dapat terus menjaga persatuan dan kesatuan antarmasyarakat, terutama
selama berada di Korsel.
Setelah ibadah oikumene, diselenggarakan
perayaan natal bersama masyarakat Indonesia yang diisi dengan sumbangan
lagu-lagu natal dari anak-anak staf KBRI Seoul, paduan suara, dan drama
natal dari gereja-gereja Indonesia di Korsel. |
¡¡ |
¡¡ |